Daging beruang (kuma niku) di Jepang saat ini bukan sekadar makanan ekstrem, tapi bagian dari respons terhadap krisis konflik manusia–beruang yang memburuk di 2025, sekaligus menjadi tren kuliner yang justru diburu di tengah teror serangan beruang liar.
1. Latar belakang tren kuma niku

- Lonjakan populasi & serangan beruang:
Di Jepang, populasi beruang (terutama beruang Hitam Jepang dan beruang cokelat di Hokkaido) meledak karena faktor seperti menyusutnya penduduk pedesaan, buruknya panen biji ek, dan perubahan habitat. - Pengendalian populasi & pemanfaatan daging:
Untuk menekan risiko konflik, pemerintah Jepang mempercepat program pengendalian populasi beruang, termasuk pemburuan skala besar.- Pemerintah pusat mengucurkan subsidi sekitar 18,4 miliar yen (Rp1,9 triliun) untuk mengendalikan populasi beruang sekaligus mendorong konsumsi daging buruan secara berkelanjutan.
- Kementerian Pertanian Jepang menyatakan pentingnya “mengubah satwa liar yang mengganggu menjadi sesuatu yang positif”, termasuk sebagai sumber makanan dan pendapatan tambahan bagi masyarakat pedesaan.
2. Bagaimana kuma niku dihidangkan
- Sumber daging:
Daging beruang berasal dari hewan yang dibasmi dalam program pengendalian populasi, bukan dari perburuan sembarangan. - Cara masak & rasa:
- Restoran yang menyajikan:
- Di Chichibu, restoran milik Koji Suzuki (71 tahun) kebanjiran permintaan daging beruang panggang, sampai harus menolak pelanggan karena stok terbatas.
- Di Aomori, restoran desa Katsuhiko Kakuta (50 tahun) mengaku stok daging beruangnya habis terjual karena lonjakan permintaan, terutama setelah diulas influencer.
3. Kenapa jadi tren kuliner ekstrem
- Respons terhadap berita serangan beruang:
- Penghormatan terhadap satwa & pemanfaatan sumber daya:
- Kuliner lokal & tradisi pegunungan:
4. Kontroversi & kekhawatiran
- Etika & kesejahteraan satwa:
- Beberapa kelompok konservasi dan aktivis hewan mengkritik program pemburuan massal beruang, meski pemerintah menekankan bahwa ini dilakukan untuk keselamatan manusia.
- Ada kekhawatiran bahwa tren kuliner ini bisa mendorong eksploitasi berlebihan terhadap populasi beruang, terutama jika tidak dikendalikan dengan ketat.
- Keamanan pangan & kesehatan:
5. Makna simbolis “kuma” di Jepang 2025
- Kanji “Kuma” sebagai simbol tahun 2025:
- Kanji 熊 (kuma / beruang) terpilih sebagai simbol tahun 2025 di Jepang, mencerminkan lonjakan serangan beruang dan sorotan publik terhadap isu ini.
- Di sisi lain, tren kuliner kuma niku menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang merespons krisis dengan cara yang unik: mengubah ancaman menjadi peluang ekonomi dan budaya.
- Dua sisi kuma niku:
- Di satu sisi, kuma niku adalah simbol teror dan krisis konflik manusia–beruang.
- Di sisi lain, kuma niku menjadi simbol inovasi, ketahanan, dan adaptasi budaya Jepang terhadap tantangan zaman. luck365
