daging beruang

Daging beruang (kuma niku) di Jepang saat ini bukan sekadar makanan ekstrem, tapi bagian dari respons terhadap krisis konflik manusia–beruang yang memburuk di 2025, sekaligus menjadi tren kuliner yang justru diburu di tengah teror serangan beruang liar.

1. Latar belakang tren kuma niku

daging beruang
  • Lonjakan populasi & serangan beruang:
    Di Jepang, populasi beruang (terutama beruang Hitam Jepang dan beruang cokelat di Hokkaido) meledak karena faktor seperti menyusutnya penduduk pedesaan, buruknya panen biji ek, dan perubahan habitat.
    • Dari April–Oktober 2025, ada 36.814 laporan penampakan beruang di seluruh Jepang, hampir dua kali lipat dari tahun fiskal sebelumnya.
    • Serangan beruang telah menewaskan sekitar 13 orang di 2025, membuat pemerintah mengambil langkah darurat, termasuk pengerahan pasukan dan polisi anti huru-hara.
  • Pengendalian populasi & pemanfaatan daging:
    Untuk menekan risiko konflik, pemerintah Jepang mempercepat program pengendalian populasi beruang, termasuk pemburuan skala besar.
    • Pemerintah pusat mengucurkan subsidi sekitar 18,4 miliar yen (Rp1,9 triliun) untuk mengendalikan populasi beruang sekaligus mendorong konsumsi daging buruan secara berkelanjutan.
    • Kementerian Pertanian Jepang menyatakan pentingnya “mengubah satwa liar yang mengganggu menjadi sesuatu yang positif”, termasuk sebagai sumber makanan dan pendapatan tambahan bagi masyarakat pedesaan.

2. Bagaimana kuma niku dihidangkan

  • Sumber daging:
    Daging beruang berasal dari hewan yang dibasmi dalam program pengendalian populasi, bukan dari perburuan sembarangan.
    • Di daerah pegunungan seperti Chichibu (Saitama) dan Aomori, restoran lokal mendapat pasokan daging dari beruang yang diburu secara resmi.
  • Cara masak & rasa:
    • Daging beruang biasanya dipanggang di atas batu panas (yakiniku style) atau dimasak dalam panci dengan sayuran (nabe style).
    • Rasanya digambarkan gurih, agak liar, dan mirip daging rusa atau babi hutan, dengan tekstur yang cukup padat.
  • Restoran yang menyajikan:
    • Di Chichibu, restoran milik Koji Suzuki (71 tahun) kebanjiran permintaan daging beruang panggang, sampai harus menolak pelanggan karena stok terbatas.
    • Di Aomori, restoran desa Katsuhiko Kakuta (50 tahun) mengaku stok daging beruangnya habis terjual karena lonjakan permintaan, terutama setelah diulas influencer.

3. Kenapa jadi tren kuliner ekstrem

  • Respons terhadap berita serangan beruang:
    • Maraknya pemberitaan tentang beruang yang masuk ke rumah, sekolah, dan supermarket membuat warga penasaran dan ingin mencoba daging beruang.
    • Pemilik restoran mengatakan: “Dengan semakin banyaknya berita tentang beruang, jumlah pelanggan yang ingin mencicipi dagingnya meningkat pesat”.
  • Penghormatan terhadap satwa & pemanfaatan sumber daya:
    • Banyak yang melihat menyajikan daging beruang sebagai bentuk penghormatan terhadap satwa yang telah diburu, daripada membuangnya sia-sia.
    • Pemerintah dan masyarakat pedesaan melihatnya sebagai cara mengubah ancaman menjadi peluang ekonomi, terutama di daerah yang kesulitan ekonomi.
  • Kuliner lokal & tradisi pegunungan:
    • Konsumsi daging beruang sebenarnya bukan hal baru di Jepang; di desa-desa pegunungan, daging ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat, meski tidak dikonsumsi sehari-hari.
    • Tren 2025 memperkuat citra kuma niku sebagai “kuliner ekstrem Jepang” yang unik dan otentik.

4. Kontroversi & kekhawatiran

  • Etika & kesejahteraan satwa:
    • Beberapa kelompok konservasi dan aktivis hewan mengkritik program pemburuan massal beruang, meski pemerintah menekankan bahwa ini dilakukan untuk keselamatan manusia.
    • Ada kekhawatiran bahwa tren kuliner ini bisa mendorong eksploitasi berlebihan terhadap populasi beruang, terutama jika tidak dikendalikan dengan ketat.
  • Keamanan pangan & kesehatan:
    • Daging beruang harus diolah dengan benar untuk menghindari risiko parasit dan penyakit, sehingga pemerintah dan restoran harus memastikan standar keamanan pangan yang ketat.
    • Di beberapa daerah, daging beruang juga diuji untuk memastikan tidak mengandung zat berbahaya sebelum dikonsumsi.

5. Makna simbolis “kuma” di Jepang 2025

  • Kanji “Kuma” sebagai simbol tahun 2025:
    • Kanji 熊 (kuma / beruang) terpilih sebagai simbol tahun 2025 di Jepang, mencerminkan lonjakan serangan beruang dan sorotan publik terhadap isu ini.
    • Di sisi lain, tren kuliner kuma niku menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang merespons krisis dengan cara yang unik: mengubah ancaman menjadi peluang ekonomi dan budaya.
  • Dua sisi kuma niku:
    • Di satu sisi, kuma niku adalah simbol teror dan krisis konflik manusia–beruang.
    • Di sisi lain, kuma niku menjadi simbol inovasi, ketahanan, dan adaptasi budaya Jepang terhadap tantangan zaman. luck365